Gerakan “Ketuk Pintu” dalam menemukan kasus atau pasien TB di Puskesmas Tj. Beringin
15 Nov 2022
18:13:54 WIB
5x dibaca
Lunang, 15 November 2022
Kegiatan “Ketuk Pintu” TB
Gerakan “Ketuk Pintu” dalam menemukan kasus atau pasien TB dinilai cukup efektif. Hal itu diakui juga oleh Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P), Dinkes Kabupaten Pesisir Selatan.
Ketuk pintu merupakan gerakan bersama antara tenaga dan kader kesehatan di wilayah kerja masing-masing, di mana mereka melakukan kunjungan rumah untuk mendata, memeriksa dan memfasilitasi pengobatan yang intensif. Petugas mendatangi rumah warga, mengetuk pintu rumah sekaligus “pintu hati” mereka. Pendekatan yang baik memungkinkan warga membuka pintu dan menyilakan petugas kesehatan masuk untuk menyampaikan tujuan kunjungan. Bila kedua belah pihak sama-sama memahami manfaatnya, tentunya akan memudahkan proses selanjutnya, yaitu mengkaji semua anggota keuarga yang dicurigai menderita TB, melakukan pemeriksaan untuk memastikan diagnosa, dan memfasilitasi pengobatan bila ditemukan hasil pemeriksaan TB positif.
Munculnya program inovasi ini tentunya beralasan. Berkat jasa Robert Koch, penyakit TB ini sudah diketahui penyebabnya sejak 24 Maret 1982 silam, yaitu Mycobacterium tuberculosis. Selanjutnya, ditemukan pula obat-obatan yang bisa mematikan kuman tersebut. Program pemberantas TB pun menjadi perhatian seluruh dunia. Di Indonesia, pengobatan bisa diakses secara gratis di setiap puskesmas maupun fasilitas kesehatan yang lainnya. Tapi anehnya, kenapa penyakit ini tidak bisa hilang? Tentunya ada yang salah dalam pemberantasannya, sehingga munculah inovasi baru, pertugas dan kader kesehatan dari pintu ke pintu mengetok untuk menemukan dan menyelesaikan masalah tersebut.
Sebagai masyarakat, kita tentunya mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh kementerian kesehatan itu. Petugas kesehatan tidak hanya menunggu di fasilitas kesehatan, tapi aktif “menjemput bola” di pemukiman warga. Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) juga telah memberi apresiasi kepada pemerintah Indonesia saat kegiatan End TB Summit dan SEARO High Level Leadership Meeting on Ending TB yang diselenggarakan di New Delhi, 13-14 Maret 2018 lalu. Indonesia diakui telah mengimplementasikan dengan benar New Delhi Call for Action dan berharap Indonesia akan berhasil dalam upaya mengakhiri TBC pada tahun 2030 (Kemenkes RI, 2018).
Selain itu, petugas dan kader kesehatan mesti dicitrakan kembali sebagai pelayan yang baik, sehingga masyarakat merasa nyaman saat berinteraksi. Kadangkala masyarakat enggan ke fasilitas kesehatan hanya gara-gara punya pengalaman tidak mengenakkan saat berinteraksi dengan petugas dan kader kesehatan. Akibatnya mereka tidak rutin mengontrol dan pengobatannya terputus. Hal ini tentunya sangat berbahaya karena kuman TB akan semakin kebal terhadap obat-obat yang ada. Itulah masalah lanjutan akibat berobat tidak teratur yang kita kenal dengan sebut dengan TB MDR (Tuberculosis Multi-drug Resistant). Bila sudah seperti itu, pengobatan tentunya semakin rumit.
Gerakan inovasi ketuk pintu yang merupakan implementasi program TOSS TB (Temukan, Obat Sampai Sembuh Tuberkulosis) yang merupakan kegiatan penemuan kasus secara aktif dan masif sekaligus mendorong pasien TBC untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sampai tuntas.
Gerakan tersebut bertujuan agar penderita TB berobat dengan benar dan teratur, serta mencegah terjadi kuman TB kebal terhadap obat (TB MDR). Karena bila itu terjadi, biaya pengobatannya semakin besar dan kemungkin untuk sembuh semakin kecil. Gejala lanjutan yang dialami oleh penderita juga biasanya makin buruk dan mengancam nyawa.
#TOSSTB
#Salamsehat
#Salaminovasisehat
#salamsehatluarbiasa
#PuskesmasTanjungBeringin
Penulis:
Emmi