PEMERIKSAAN TELUR CACING PADA ANAK BALITA STUNTING PUSKESMAS KAYU GADANG
20 Oct 2022
18:57:56 WIB
58x dibaca
KEGIATAN BAKSOS PATELKI, PEMERIKSAAN TELUR CACING PADA ANAK BALITA STUNTING PUSKESMAS KAYU GADANG BERSAMA PUSKESMAS SURANTIH
Kayu Gadang, 20 Oktober 2022
Kegiatan hari ini Penanggung Ruang Labor Wilda Susanti,AMd.Ak Bersama Desi Revita,AMd.Ak dan Dewita Yeni,AMd.Ak bersama Program Gizi Melaksanakan Pemeriksaan Baksos Patelki, Pemeriksaan Telur Cacing pada Anak Balita Stunting Puskesmas Kayu Gadang bersama Puskesmas Surantih di Kantor HC Surantih
StuntingĀ merupakan salah satu masalah kesehatan pada balita di dunia khususnya di Indonesia yang menyebabkan gagal pertumbuhan pada anakĀ usia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan giziĀ kronisĀ atauĀ malnutrisiĀ dan terjadi infeksi berulang. Masalah kekurangan gizi pada belita umumnya sering disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya infeksiĀ Soil Transminted HelminthĀ (STH). Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran telur cacingĀ Soil Transminted HelminthĀ (STH) pada balitaĀ stuntingĀ usia 24-60 bulan di kecamatan Ujung Bulu dan Kecamatan GantarangĀ menggunakan pewarnaan ekstrakĀ antosianinĀ dari ubi ungu. Metode yang di gunakan adalah Jenis penelitianĀ deskriptif.Ā Penelitian ini di dahului dengan memberikan kuesioner untuk mendapatkan kriteria yang sesuai dengan penelitian, di dapatkan 19 responden balitaĀ stuntingĀ kemudian dilakukan pemeriksaan feses menggunakan metodeĀ flotasiĀ dengan menggunakan pewarnaan ekstrakĀ antosianinĀ dari ubi ungu.Ā
Cacingan dalam istilah sehari-hari adalah kumpulan gejala gangguan kesehatan akibat adanya cacing parasit di dalam tubuh. Penyebab cacingan yang populer adalah cacing pita, cacing kremi, dan cacing tambang. Biasanya cacing bisa dengan mudah menular.
Pantat gatal, merupakan salah satu gejala untuk jenis cacingĀ Enterobius vermicularis. Pada spesies cacing ini, indung cacing keluar dari lubang anus, biasanya di malam hari ketika kita tidur, dan meletakkan telurnya di daerah peri-anal (sekeliling anus). Dengan menggunakan selotip, contoh telur-telur dapat diambil dan dapat dilihat dengan bantuan mikroskop untuk diagnosa.
Penyakit cacingan sering dianggap sebagai penyakit yang sepele oleh sebagian besar kalangan masyarakat. Padahal penyakit ini bisa menurunkan tingkat kesehatan anak. Di antaranya, menyebabkan anemia, IQ menurun, lemas tak bergairah, ngantuk, malas beraktivitas serta berat badan rendah. Gejala penyakit cacingan pun akan sulit dideteksi, jika jumlah cacing yang bersarang dalam tubuh masih sedikit.
Cara masuknya cacing ke dalam tubuh beraneka ragam. Cacing gelang yang bersarang dalam tubuh dengan jumlah telur infektif 100.000-200.000 perhari biasanya masuk melalui makanan. Untuk cacing cambuk, telur infektif yang ada di dalam tubuh sebanyak 3000-5000 dalam waktu 3-6 minggu biasanya juga masuk lewat makanan.
Sedangkan telur cacing tambang biasanya bisa berkembang dalam tubuh lewat makanan dan kulit. Telur cacing cambuk yang infektif bisanya berjumlah 9000-10.000 dalam waktu 3 hari.
Berkembangnya penyakit ini juga dipengaruhi banyak faktor mulai dari faktor iklim tropis, kebersihan tubuh, sanitasi lingkungan, sosial ekonomi dan kepadatan penduduk.
Penanganan untuk mengatasi infeksi cacing dengan obat-obatan merupakan pilihan yang dianjurkan. Obat anti cacing Golongan Pirantel Pamoat merupakan anti cacing yang efektif untuk mengatasi sebagian besar infeksi yang disebabkan parasit cacing.
Intervensi berupa pemberian obat cacing (obat pirantel pamoat 10 mg/kg BB dan albendazole 10 mg/kg BB) dosis tunggal diberikan tiap 6 bulan pada anak SD dapat mengurangi angka kejadian infeksi ini pada suatu daerah.
Paduan yang serasi antara upaya prevensi dan terapi akan memberikan tingkat keberhasilan yang memuaskan, sehingga infeksi cacing secara perlahan dapat diatasi secara maksimal.
Salam sehat
Terima kasih
Penulis:
Emmi