Gerakan Cegah Stunting di Nagari Kampung Tengah Puskesmas Rahul
07 Aug 2023
10:29:28 WIB
34x dibaca
Gerakan Cegah Stunting di Nagari Kampung Tengah, Puskesmas Rahul
Kamis, 3 Agustus 2023
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kurang gizi dalam jangka waktu lama, paparan infeksi berulang, dan kurang stimulasi. Stunting dipengaruhi oleh status kesehatan remaja, ibu hamil, pola makan balita, serta ekonomi, budaya, maupun faktor lingkungan seperti sanitasi dan akses terhadap layanan kesehatan.
Survei menunjukkan 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting, kurang lebih ada 5 juta anak Indonesia mengalami stunting (Studi Status Gizi Indonesia, 2021).
Gerakan Cegah Stunting dilakukan oleh petugas Promosi Kesehatan dan Gizi Puskesmas Rahul di kantor wali Nagari Kampung Tengah Tapan, pada hari Kamis (3/8). Adapun sasaran edukasi yaitu ibu hamil, orangtua balita dan kader kesehatan Nagari. Kegiatan berupa penyuluhan tentang upaya cegah stunting. Acara dibuka oleh wali Nagari, Safi'i.
Kegiatan penyuluhan ini terintegrasi dengan program kesehatan Anak dan KB. Peserta penyuluhan juga mendapat edukasi tentang kesehatan anak dan kontrasepsi. Petugas yang melaksanakan kegiatan Dela Septianingsih,SKM, Gushendriadi, Amd.Gz, Asliii Arnita, Amd. Keb, Indrayanti, Amd.Keb, Mega Silfia HY.Amd.Keb, Mindi, dan Rahma serta bidan Nagari Eni Susilawati, Amd.Keb.
Pada pertemuan ini dijelaskan tentang perbedaan antara balita normal dan stunting terlihat dari sisi tinggi badan. Balita stunting terlihat lebih pendek dari balita seusianya. Namun, perbedaan yang tidak terlihat antara keduanya adalah otak anak stunting tidak terbentuk dengan baik dan dapat berdampak panjang.
Pesan kunci gerakan cegah stunting melalui pesan ABCDE bebas stunting :
1. (A) Aktif minum Tablet Tambah Darah, Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali. Konsumsi TTD bagi Ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan)
2. (B) Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali
Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG
3. (C) Cukupi konsumsi protein hewani
Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan
4. (D) Datang ke Posyandu setiap bulan
Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke posyandu setiap bulan
5.(E) Eksklusif ASI 6 bulan
ASI ekslusif selama 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun.
Setelah pertemuan, kader posyandu juga diajarkan untuk menggunakan alat antropometri KIT oleh petugas gizi. Mengingat pada bulan Agustus akan dilaksanakan penimbangan masal di posyandu.
#cegahStuntinitupPenting
#puskesmasRahul
Penulis:
Sherly G